Pemerintah Terus Upayakan Pulihkan Akses Masyarakat di Padang Pariaman Pasca Bencana

PARIK MALINTANG   Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, terus berupaya memulihkan akses transportasi yang terputus akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir 2025. Beberapa jalan amblas, terban, longsor, serta jembatan rusak dan ambruk, mempengaruhi mobilitas masyarakat setempat.

Sekretaris Daerah Padang Pariaman, Rudy Repenaldi, menjelaskan bahwa untuk mengatasi kerusakan infrastruktur tersebut, pemerintah telah membangun jembatan bailey di tiga lokasi, dua di antaranya sudah beroperasi, sementara satu lagi masih dalam tahap pengerjaan. “Dua jembatan bailey yang sudah beroperasi berada di Luhuang, Kecamatan Sungai Garinggiang, dan Padang Mantuang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam. Sedangkan satu lagi sedang dibangun di Batu Caluang, Kecamatan Aur Malintang,” kata Rudy, Minggu (25/1/2026).

Jembatan bailey di Sungai Garinggiang adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah provinsi, sementara dua lokasi lainnya berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten. Rudy menambahkan bahwa jalan-jalan ini merupakan jalur utama bagi warga setempat menuju pusat kota dan pemerintahan, serta menjadi penopang ekonomi dan jalur logistik yang vital.

Meskipun ada laporan tentang kemungkinan pembangunan jembatan bailey lainnya, Rudy belum dapat memastikan hal tersebut. Selain itu, pemerintah juga membangun jalan alternatif di sisi-sisi jalan yang terban untuk memudahkan akses warga.

Meskipun sejumlah infrastruktur, termasuk jembatan, jalan, dan irigasi, masih dalam proses perbaikan, Rudy memastikan bahwa pelayanan publik di bidang pemerintahan, kesehatan, dan pendidikan telah berjalan normal kembali. “Perbaikan infrastruktur rusak akibat bencana dikelompokkan berdasarkan tingkatannya, yaitu pemerintah pusat untuk yang berat dan pemerintah kabupaten untuk yang ringan melalui APBD,” tambahnya.

Salah seorang warga Sungai Garinggiang, Doni Julianda, mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan bailey di Luhuang sangat membantu dirinya dan warga lainnya. Sebelumnya, mereka terpaksa menggunakan jalan alternatif yang kondisinya rusak parah. “Kalau menggunakan jalan lain jauh dan bahkan ada yang putus karena terban,” ujarnya. Doni berharap agar pemerintah segera memperbaiki jalan tersebut, karena jika dibiarkan, kerusakan akan semakin meluas dan jembatan tidak dapat digunakan lagi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *