PALEMBANG — Inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada Januari 2026 tercatat 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), turun dari 0,49 persen pada periode sebelumnya. Namun, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi naik menjadi 3,33 persen dari 2,91 persen sebulan sebelumnya, sejalan dengan inflasi nasional yang meningkat ke 3,55 persen dari 2,92 persen. Bank Indonesia menyatakan inflasi Sumsel masih berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen, sehingga stabilitas harga dinilai terjaga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Bambang Pramono mengatakan capaian tersebut mencerminkan stabilitas harga di tengah pertumbuhan ekonomi yang berlanjut. Tekanan inflasi Januari terutama berasal dari komoditas strategis, dengan andil terbesar dari emas (0,42 persen mtm), disusul tomat (0,06 persen), bawang putih (0,02 persen), dan kacang panjang (0,01 persen).
BI menilai kenaikan harga emas perhiasan berlanjut seiring meningkatnya preferensi masyarakat terhadap instrumen safe-haven di tengah dinamika ekonomi global. Tekanan pada pangan juga muncul pada komoditas tertentu. Kenaikan harga komoditas berbasis konsumsi, termasuk daging ayam ras, dipengaruhi peningkatan permintaan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kenaikan harga hortikultura dipicu terbatasnya pasokan dari daerah sentra akibat gangguan cuaca.
BI memperkirakan inflasi tetap terkendali, tetapi meminta kewaspadaan menjelang Tahun Baru Imlek dan Ramadhan. Curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga Februari berpotensi mengganggu pasokan pangan dan hortikultura. Tekanan inflasi diproyeksikan mulai mereda seiring puncak panen padi periode Februari–Maret 2026.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel memperkuat strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah yang disiapkan meliputi operasi pasar murah, gerakan pangan murah, koordinasi distribusi beras SPHP dengan Bulog, penyaluran melalui Toko KePo/RPK/Toko Penyeimbang, serta pemantauan harga dan stok di pasar.
Pada kuartal I 2026, TPID juga mencatat panen raya jagung serentak di sejumlah daerah dengan luas tanam lebih dari 270 hektare dan estimasi hasil 3–6 ton per hektare guna menopang pasokan pakan dan menahan kenaikan harga komoditas terkait, seperti telur dan ayam.


