TAPANULI – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Pemkab Tapsel) sedang melakukan pemetaan pemulihan kawasan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi, yang mengakibatkan kerusakan signifikan pada lahan pertanian dan perkebunan di daerah tersebut. Upaya pemulihan ini menjadi langkah penting dalam transisi dari masa tanggap darurat ke pemulihan dan rehabilitasi bertahap.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menjelaskan bahwa setelah melewati masa tanggap darurat, Pemkab Tapsel kini fokus pada pemulihan dan rekonstruksi yang dilakukan secara bertahap. “Kita sudah melewati masa tanggap darurat dan masuk ke transisi darurat menuju pemulihan. Setelah itu, masuk lagi ke masa rekonstruksi serta rehabilitasi yang dilakukan secara bertahap,” ujar Gus Irawan pada Kamis (29/1/2026) di Sipirok.
Kerusakan akibat bencana hidrometeorologi ini, yang mencakup kerusakan lahan pertanian, fasilitas umum, dan aset pemerintah, telah dihitung bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan total kerugian mencapai Rp2,6 triliun. Sebagai bagian dari proses pemulihan, Pemkab Tapsel juga telah menyelesaikan Rencana Rekonstruksi Rehabilitasi Pasca Bencana (R3PB).
Untuk membantu masyarakat yang kehilangan mata pencaharian, Pemkab Tapsel bekerja sama dengan PTPN untuk menyediakan lahan untuk hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap). Selain itu, juga disediakan lahan tumpang sari untuk kegiatan cocok tanam. “Kami akan memberikan bibit jagung kepada masyarakat yang sebelumnya bertani padi, agar mereka tetap produktif meskipun mereka sekarang diajak untuk bertanam jagung di lokasi PTPN,” jelas Gus Irawan.
Di sisi lain, Pemkab Tapsel juga melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk melakukan normalisasi dan reklamasi lahan pertanian yang rusak. “Kami terus mengupayakan agar sawah-sawah dapat segera ditanami kembali,” lanjut Gus Irawan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan, Muhammad Taufik Batubara, melaporkan kerusakan lahan pertanian yang terjadi akibat bencana ini terbagi dalam tiga kategori: berat, sedang, dan ringan. Untuk kategori berat, terdapat 1.352 hektare lahan yang gagal panen namun masih bisa ditanami pada tahun mendatang, dan 536 hektare lahan yang rusak parah dan tidak dapat digunakan lagi. Sementara itu, untuk kategori rusak sedang dan ringan masing-masing tercatat seluas 77 hektare dan 1.053 hektare.
Taufik menambahkan bahwa untuk lahan yang rusak berat namun masih dapat ditanami kembali, Pemkab Tapsel akan memberikan bantuan bibit sebanyak 25 kilogram per hektare kepada petani. Selain itu, program dari pemerintah pusat juga mendukung optimalisasi lahan pertanian agar dapat dimanfaatkan kembali oleh petani.
Dengan langkah-langkah pemulihan yang telah direncanakan, Pemkab Tapsel berupaya untuk mengembalikan kesejahteraan masyarakat dan memulihkan sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama bagi banyak warganya.

